{"id":7018,"date":"2025-11-28T04:09:29","date_gmt":"2025-11-27T21:09:29","guid":{"rendered":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara"},"modified":"2025-11-28T04:09:29","modified_gmt":"2025-11-27T21:09:29","slug":"zaman-praaksara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara","title":{"rendered":"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba"},"content":{"rendered":"<p><!DOCTYPE html> <html lang=\"id\"> <head> <meta charset=\"UTF-8\"> <meta name=\"viewport\" content=\"width=device-width, initial-scale=1.0\"> <title>Jelajahi Zaman Praaksara: Sejarah, Ciri-ciri, dan Peninggalan Manusia Purba<\/title> <meta name=\"description\" content=\"Pelajari lebih dalam tentang zaman praaksara, periode penting dalam sejarah manusia sebelum ditemukannya tulisan. Temukan ciri-ciri, periodisasi, dan peninggalan budaya manusia purba.\"> <meta name=\"keywords\" content=\"zaman praaksara, sejarah Indonesia, manusia purba, arkeologi, paleolitikum, mesolitikum, neolitikum, megalitikum, peninggalan sejarah, sejarah dunia\"> <\/head> <body> <\/p>\n<p>Zaman praaksara, juga dikenal sebagai zaman prasejarah atau nirleka, merupakan periode panjang dalam sejarah manusia sebelum mengenal tulisan. Periode ini menjadi fondasi bagi peradaban yang kita kenal sekarang, di mana manusia purba berjuang untuk bertahan hidup, beradaptasi dengan lingkungan, dan mengembangkan berbagai kemampuan dasar. Memahami zaman praaksara membantu kita menghargai perjalanan panjang manusia dalam mencapai kemajuan dan kompleksitas kehidupan modern.<\/p>\n<p>Meskipun tidak ada catatan tertulis, kita dapat merekonstruksi kehidupan manusia pada zaman praaksara melalui berbagai peninggalan arkeologis, seperti artefak batu, tulang belulang, lukisan gua, dan sisa-sisa permukiman. Analisis terhadap peninggalan-peninggalan ini memberikan gambaran tentang bagaimana manusia purba berburu, bercocok tanam, membuat peralatan, serta membangun struktur sosial dan kepercayaan mereka. Mari kita telusuri lebih dalam tentang periode penting ini.<\/p>\n<h2>Pengertian Zaman Praaksara<\/h2>\n<p>Zaman praaksara secara harfiah berarti &#8220;zaman sebelum ada aksara&#8221; atau tulisan. Ini adalah periode dalam sejarah manusia di mana catatan tertulis belum ditemukan atau digunakan. Dengan demikian, pemahaman kita tentang periode ini sangat bergantung pada bukti-bukti fisik yang ditemukan oleh para arkeolog dan ilmuwan lainnya.<\/p>\n<p>Penting untuk diingat bahwa batas antara zaman praaksara dan zaman sejarah berbeda-beda di setiap wilayah di dunia. Beberapa peradaban mengembangkan sistem penulisan lebih awal dari yang lain. Misalnya, peradaban Mesopotamia dan Mesir Kuno telah memiliki tulisan ribuan tahun sebelum peradaban lain di benua Eropa atau Asia.<\/p>\n<h2>Ciri-Ciri Utama Zaman Praaksara<\/h2>\n<p>Salah satu ciri utama zaman praaksara adalah ketergantungan manusia pada alam. Manusia purba sangat bergantung pada sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian. Mereka berburu hewan liar, mengumpulkan tumbuhan liar, dan mencari tempat perlindungan di gua-gua atau membuat tempat tinggal sederhana dari bahan-bahan alami.<\/p>\n<p>Selain itu, kehidupan sosial manusia purba juga sangat sederhana. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil dan berpindah-pindah tempat (nomaden) mengikuti ketersediaan makanan. Belum ada sistem pemerintahan atau struktur sosial yang kompleks seperti yang kita temukan dalam peradaban modern. Namun, dalam kelompok tersebut, terdapat pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dan usia.<\/p>\n<h2>Periodisasi Zaman Praaksara Berdasarkan Arkeologi<\/h2>\n<p>Para ahli arkeologi membagi zaman praaksara menjadi beberapa periode berdasarkan jenis alat dan teknologi yang digunakan oleh manusia purba. Pembagian ini membantu kita memahami perkembangan kemampuan manusia dalam menciptakan alat dan beradaptasi dengan lingkungan.<\/p>\n<p>Periodisasi utama zaman praaksara meliputi Paleolitikum (Zaman Batu Tua), Mesolitikum (Zaman Batu Tengah), Neolitikum (Zaman Batu Baru), dan Megalitikum (Zaman Batu Besar). Setiap periode memiliki ciri khas tersendiri dalam hal teknologi, cara hidup, dan peninggalan budaya.<\/p>\n<h3>Paleolitikum (Zaman Batu Tua)<\/h3>\n<p>Paleolitikum adalah periode terpanjang dalam sejarah manusia. Pada masa ini, manusia purba hidup secara nomaden dan berburu hewan-hewan besar seperti mammoth dan badak berbulu. Alat-alat yang digunakan masih sangat kasar dan terbuat dari batu yang dipangkas sederhana.<\/p>\n<p>Contoh peninggalan Paleolitikum adalah alat-alat batu seperti kapak perimbas, kapak genggam, dan alat serpih. Selain itu, ditemukan juga lukisan-lukisan gua yang menggambarkan hewan buruan atau aktivitas sehari-hari manusia purba.<\/p>\n<h3>Mesolitikum (Zaman Batu Tengah)<\/h3>\n<p>Mesolitikum adalah masa transisi antara Paleolitikum dan Neolitikum. Pada periode ini, manusia purba mulai mengembangkan alat-alat yang lebih halus dan kompleks, seperti mikrolit (alat batu kecil) dan panah.<\/p>\n<p>Manusia purba juga mulai mengembangkan cara hidup yang lebih menetap (sedenter), meskipun masih tergantung pada berburu dan mengumpulkan makanan. Beberapa kelompok manusia purba mulai tinggal di gua-gua atau membuat permukiman sederhana di tepi sungai atau pantai.<\/p>\n<h3>Neolitikum (Zaman Batu Baru)<\/h3>\n<p>Neolitikum adalah periode revolusi pertanian, di mana manusia purba mulai bercocok tanam dan beternak. Hal ini memungkinkan mereka untuk menghasilkan makanan sendiri dan hidup lebih menetap. Perkembangan ini membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial dan ekonomi manusia.<\/p>\n<p>Pada masa Neolitikum, manusia purba mulai membuat alat-alat yang lebih halus dan dipoles, seperti beliung persegi dan kapak lonjong. Mereka juga mulai membuat gerabah dan tenun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.<\/p>\n<h3>Megalitikum (Zaman Batu Besar)<\/h3>\n<p>Megalitikum adalah periode di mana manusia purba membangun monumen-monumen besar dari batu, seperti menhir, dolmen, dan sarkofagus. Monumen-monumen ini diperkirakan memiliki fungsi religius atau upacara adat.<\/p>\n<p>Peninggalan Megalitikum banyak ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan dan upacara adat telah berkembang pada masa itu.<\/p>\n<h2>Kehidupan Sosial dan Ekonomi Manusia Praaksara<\/h2>\n<p>Kehidupan sosial manusia praaksara sangat sederhana dan berbasis pada kelompok-kelompok kecil. Mereka bekerja sama untuk berburu, mengumpulkan makanan, dan melindungi diri dari bahaya. Pembagian kerja didasarkan pada jenis kelamin dan usia, di mana laki-laki biasanya berburu dan perempuan mengumpulkan makanan dan merawat anak-anak.<\/p>\n<p>Secara ekonomi, manusia praaksara hidup secara subsisten, yaitu hanya menghasilkan cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan kelompoknya. Belum ada sistem perdagangan atau spesialisasi pekerjaan seperti yang kita temukan dalam masyarakat modern.<\/p>\n<h2>Kepercayaan dan Spiritualitas Manusia Praaksara<\/h2>\n<p>Meskipun tidak ada catatan tertulis, kita dapat mengetahui kepercayaan dan spiritualitas manusia praaksara melalui lukisan-lukisan gua, monumen-monumen megalitik, dan praktik-praktik penguburan. Lukisan-lukisan gua seringkali menggambarkan hewan-hewan buruan, yang mungkin merupakan bagian dari ritual perburuan atau kepercayaan animisme.<\/p>\n<p>Monumen-monumen megalitik seperti menhir dan dolmen diperkirakan memiliki fungsi religius atau upacara adat. Praktik penguburan juga menunjukkan adanya kepercayaan tentang kehidupan setelah kematian. Misalnya, beberapa kuburan ditemukan dengan bekal kubur berupa alat-alat atau perhiasan.<\/p>\n<h2>Peninggalan-Peninggalan Penting Zaman Praaksara di Indonesia<\/h2>\n<p>Indonesia memiliki banyak peninggalan zaman praaksara yang tersebar di berbagai wilayah. Beberapa situs arkeologi penting di Indonesia antara lain Sangiran, Trinil, dan Liang Bua. Situs-situs ini telah memberikan banyak informasi tentang kehidupan manusia purba di Indonesia dan kontribusinya terhadap evolusi manusia.<\/p>\n<p>Peninggalan-peninggalan tersebut meliputi fosil manusia purba, alat-alat batu, lukisan gua, dan monumen megalitik. Penemuan-penemuan ini membantu kita memahami sejarah panjang manusia di Indonesia dan bagaimana mereka beradaptasi dengan lingkungan.<\/p>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Zaman praaksara adalah periode penting dalam sejarah manusia yang memberikan fondasi bagi perkembangan peradaban. Melalui peninggalan-peninggalan arkeologis, kita dapat merekonstruksi kehidupan manusia purba, memahami cara mereka beradaptasi dengan lingkungan, dan menghargai perjalanan panjang mereka dalam mencapai kemajuan.<\/p>\n<p>Mempelajari zaman praaksara tidak hanya menambah pengetahuan kita tentang sejarah, tetapi juga membantu kita memahami akar budaya dan identitas kita sebagai manusia. Dengan memahami masa lalu, kita dapat lebih menghargai masa kini dan merencanakan masa depan yang lebih baik.<\/p>\n<p> <\/body> <\/html><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jelajahi Zaman Praaksara: Sejarah, Ciri-ciri, dan Peninggalan Manusia Purba Zaman praaksara, juga dikenal sebagai zaman prasejarah atau nirleka, merupakan periode panjang dalam sejarah manusia sebelum mengenal tulisan. Periode ini menjadi fondasi bagi peradaban yang kita kenal sekarang, di mana manusia purba berjuang untuk bertahan hidup, beradaptasi dengan lingkungan, dan mengembangkan berbagai kemampuan dasar. Memahami zaman &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7017,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1248],"tags":[1608,1744],"class_list":["post-7018","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-pendidikan","tag-praaksara","tag-zaman"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v27.6 (Yoast SEO v28.2) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba - AKPER Sintang<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jelajahi Zaman Praaksara: Sejarah, Ciri-ciri, dan Peninggalan Manusia Purba Zaman praaksara, juga dikenal sebagai zaman prasejarah atau nirleka, merupakan periode panjang dalam sejarah manusia sebelum mengenal tulisan. Periode ini menjadi fondasi bagi peradaban yang kita kenal sekarang, di mana manusia purba berjuang untuk bertahan hidup, beradaptasi dengan lingkungan, dan mengembangkan berbagai kemampuan dasar. Memahami zaman &hellip;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog AKPER Sintang\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/akpersintang\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T21:09:29+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"administrator\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"administrator\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara\"},\"author\":{\"name\":\"administrator\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b0c9384c57fe9f00d3a9ddd9002d5920\"},\"headline\":\"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba\",\"datePublished\":\"2025-11-27T21:09:29+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara\"},\"wordCount\":985,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/Zaman-Praaksara-Asal-Usul-Ciri-Ciri-dan-Peninggalan-Manusia-Purba.png\",\"keywords\":[\"praaksara\",\"zaman\"],\"articleSection\":[\"Pendidikan\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara\",\"url\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara\",\"name\":\"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba - AKPER Sintang\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/Zaman-Praaksara-Asal-Usul-Ciri-Ciri-dan-Peninggalan-Manusia-Purba.png\",\"datePublished\":\"2025-11-27T21:09:29+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/Zaman-Praaksara-Asal-Usul-Ciri-Ciri-dan-Peninggalan-Manusia-Purba.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/Zaman-Praaksara-Asal-Usul-Ciri-Ciri-dan-Peninggalan-Manusia-Purba.png\",\"width\":800,\"height\":450,\"caption\":\"Zaman Praaksara\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/zaman-praaksara#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/\",\"name\":\"Blog AKPER Sintang\",\"description\":\"Menyiapkan Tenaga Keperawatan yang Kompeten dan Berkarakter\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"AKPER SINTANG\",\"url\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/Logo-Akpersintang.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/11\\\/Logo-Akpersintang.webp\",\"width\":1024,\"height\":1024,\"caption\":\"AKPER SINTANG\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/akpersintang\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/akpersintang\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UCyOd3der2NawdzJ_tPi4ctDw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/akpersintang.ac.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b0c9384c57fe9f00d3a9ddd9002d5920\",\"name\":\"administrator\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c6dedf5e267d19041d7fbb122decb34cc29fa59b353225f8ff8bdb0b3c31a4bf?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c6dedf5e267d19041d7fbb122decb34cc29fa59b353225f8ff8bdb0b3c31a4bf?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c6dedf5e267d19041d7fbb122decb34cc29fa59b353225f8ff8bdb0b3c31a4bf?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"administrator\"},\"sameAs\":[\"administrator\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba - AKPER Sintang","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba","og_description":"Jelajahi Zaman Praaksara: Sejarah, Ciri-ciri, dan Peninggalan Manusia Purba Zaman praaksara, juga dikenal sebagai zaman prasejarah atau nirleka, merupakan periode panjang dalam sejarah manusia sebelum mengenal tulisan. Periode ini menjadi fondasi bagi peradaban yang kita kenal sekarang, di mana manusia purba berjuang untuk bertahan hidup, beradaptasi dengan lingkungan, dan mengembangkan berbagai kemampuan dasar. Memahami zaman &hellip;","og_url":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara","og_site_name":"Blog AKPER Sintang","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/akpersintang","article_published_time":"2025-11-27T21:09:29+00:00","author":"administrator","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"administrator","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara"},"author":{"name":"administrator","@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/#\/schema\/person\/b0c9384c57fe9f00d3a9ddd9002d5920"},"headline":"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba","datePublished":"2025-11-27T21:09:29+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara"},"wordCount":985,"publisher":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Zaman-Praaksara-Asal-Usul-Ciri-Ciri-dan-Peninggalan-Manusia-Purba.png","keywords":["praaksara","zaman"],"articleSection":["Pendidikan"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara","url":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara","name":"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba - AKPER Sintang","isPartOf":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Zaman-Praaksara-Asal-Usul-Ciri-Ciri-dan-Peninggalan-Manusia-Purba.png","datePublished":"2025-11-27T21:09:29+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara#primaryimage","url":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Zaman-Praaksara-Asal-Usul-Ciri-Ciri-dan-Peninggalan-Manusia-Purba.png","contentUrl":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Zaman-Praaksara-Asal-Usul-Ciri-Ciri-dan-Peninggalan-Manusia-Purba.png","width":800,"height":450,"caption":"Zaman Praaksara"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/zaman-praaksara#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Zaman Praaksara: Asal Usul, Ciri-Ciri, dan Peninggalan Manusia Purba"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/","name":"Blog AKPER Sintang","description":"Menyiapkan Tenaga Keperawatan yang Kompeten dan Berkarakter","publisher":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/#organization","name":"AKPER SINTANG","url":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Logo-Akpersintang.webp","contentUrl":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Logo-Akpersintang.webp","width":1024,"height":1024,"caption":"AKPER SINTANG"},"image":{"@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/akpersintang","https:\/\/www.instagram.com\/akpersintang","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCyOd3der2NawdzJ_tPi4ctDw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/#\/schema\/person\/b0c9384c57fe9f00d3a9ddd9002d5920","name":"administrator","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c6dedf5e267d19041d7fbb122decb34cc29fa59b353225f8ff8bdb0b3c31a4bf?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c6dedf5e267d19041d7fbb122decb34cc29fa59b353225f8ff8bdb0b3c31a4bf?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c6dedf5e267d19041d7fbb122decb34cc29fa59b353225f8ff8bdb0b3c31a4bf?s=96&d=mm&r=g","caption":"administrator"},"sameAs":["administrator"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7018","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7018"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7018\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7017"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7018"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7018"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/akpersintang.ac.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7018"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}